This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 25 April 2016

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Peta Tanah Jawa tahun 1729 Masehi (Istimewa)

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa Hien pada tahun 412 Masehi. 

Berdasarkan buku Sejarah Gaib Tanah Jawa, karangan CW Leadbeater, Cetakan 1 Maret 2015, disebutkan, pada 2.000 tahun sebelum masehi (SM), Pulau Jawa sudah menjadi koloni bangsa Atlantis, tapi saat Atlantis hancur Jawa menjadi negeri terpisah. 

Nah, disaat masih dikuasai oleh bangsa Atlantis inilah ajaran gaib hitam dan sesat mulai diajarkan kepada penduduk yang tinggal di Pulau Jawa ini. 

Sehingga pengaruh aliran sesat itu kemudian semakin kuat dan merusak tatanan kehidupan yang ada saat itu.
Mereka memuja dewa yang kejam yang selalu meminta persembahan manusia dan hidup di bawah bayang-bayang tirani tanpa kesempatan untuk melepaskan diri. 

Pada zaman itu, mereka diperintah oleh raja yang merangkap Imam Agung dari aliran hitam itu. Di antara raja ini ada seorang yang sungguh fanatik dalam kepercayaan aliran hitam itu.

Sang raja memiliki keyakinan bahwa hanya dengan menjalankan praktik kepercayaan yang mengorbankan darah setiap hari, wilayahnya dapat diselamatkan dari kehancuran. 

Hal ini didasari keyakinan bahwa, dewa-dewa ganas dan haus darahlah yang memegang kendali atas Pulau Jawa pada saat itu. 

Para dewa telah membuktikan kekuatan dahsyatnya dengan letusan gunung berapi berulang-ulang dan bencana-bencana alam lainnya.

Raja tersebut lalu memutuskan untuk melakukan sebuah pemagaran gaib demi untuk tetap menjaga dan memelihara perlindungan atas Pulau Jawa. Salah satu caranya dengan praktik ilmu gaib dari para ahli sihir. 

Hal ini dilakukan agar kelak semua sesembahan darah kepada dewa-dewa haus darah yang bercokol di seluruh Jawa tetap dilanjutkan di sepanjang abad-abad yang akan datang.

Demi terwujudnya maksud itu, dia kemudian menciptakan mantera yang sangat kuat di atas Pulau Jawa agar aliran hitam yang dianutnya tersebut tak akan lenyap selamanya.

Efek dari hal itu, masih dapat dilihat baik secara etheris maupun astral dalam bentuk awan gelap yang besar melayang-layang di atas Pulau Jawa.

Awan hitam ini, anehnya kelihatan seolah-olah seperti tertambat pada titik-titik tertentu, sehingga tidak lantas terbawa oleh angin dan tetap tinggal pada tempatnya.

Titik-titik lokasi awan hitam ini sengaja dimagnetisir oleh raja, dekat dengan kawah-kawah gunung berapi. Salah satu alasannya adalah karena kawah-kawah tersebut biasanya ditempati oleh beragam jenis makhluk-makhluk halus. Sehingga makhluk-makhluk gaib itu dapat diperintah oleh sang raja.

Kemudian pada 1.200 tahun SM terjadi invasi secara damai terhadap Pulau Jawa oleh Raja Vaivasvata Manu yang beragama Hindu. 

Mereka datang secara damai tinggal di pantai dan pada akhirnya membentuk kota perdagangan kecil yang independen.

Seiring waktu, kekuatan para pendatang Hindu ini meningkat pesat dan akhirnya menjadi dominan dalam komunitas. 

Akan tetapi walaupun Agama Hindu telah diterima oleh penduduk namun dalam kenyataannya pemujaan lama terhadap ajaran sesat tetap dilaksanakan dan praktik ilmu gaib malah makin menjamur. 

Melihat kondisi tersebut Raja Vaivasvata yang berkuasa saat itu meminta untuk mengirimkan ekspedisi ke Jawa pada tahun 78 Masehi. 

Ekspedisi ini dilakukan untuk menangkal pengaruh buruk dari aliran sesat yang sudah membumi di Tanah Jawa tersebut.

Pemimpin ekspedisi ini dipimpin oleh ahli spritual bernama Aji Saka atau Sakaji. Aji Saka ini sangat memahami tugas yang diembannya. 

Aji Saka lalu menanam benda yang berdaya magnet kuat yang telah dimantrai di tujuh tempat di Pulau Jawa untuk menyingkirkan pengaruh aliran hitam dari tanah Jawa (tumbal bagi tanah Jawa). 

Untuk tempat menguburkan tumbal atau jimatnya yang paling penting dan kuat, Aji Saka memilih perbukitan yang mengarah ke Sungai Progo, tempat yang sangat dekat dengan titik Pulau Jawa.

Legenda mengenai Aji Saka ini dalam berbagai cerita juga dianggap melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke Pulau Jawa. 

Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa Saka atau Soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama". 

Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa. 

Karena Aji Saka telah mengalahkan raja jahat Prabu Dewata Cengkar sang penguasan hitam yang kala itu menguasai Pulau Jawa. 

Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa.

Tumbal Aji Saka untuk menangkal kekekuatan hitam pun bertahan hingga beratus-ratus tahun kemudian. Hingga sampai pada keadaan dimana jin kembali berkuasa, hujan darah dimana-mana, bencana merajalela. 

Pada masa ini berkembanglah beberapa aliran ilmu gaib di Pulau Jawa diantaranya, kejawen, klenik dan kebatinan. 

Lalu pada awal abad 13 datanglah Syekh Subakir seorang ulama yang dikirim Kesultanan Turki Utsmaniyah ke tanah Jawa. 

Syekh Subakir adalah seorang ulama besar yang dikirim untuk menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara.

Karena Syekh Subakir mengetahui kondisi Pulau Jawa banyak dipengaruhi unsur gaib yang sangat mengganggu. Lalu, Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah.

Kemudian dengan karomah yang dimilikinya batu hitam dengan nama Rajah Aji Kalacakra tersebut dipasang di tengah-tengah tanah Jawa yaitu di Puncak Gunung Tidar, Magelang.

Karena, Gunung Tidar dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa. Hasilnya kekuatan gaib yang mengganggu di Pulau Jawa dapat dihalau. 

Pada masa ini ilmu kebatinan berkembang lagi menjadi beberapa cabang yaitu, ketabiban, kawaskitaan, kesaktian, kanuragan, kekebalan, pengasihan, termasuk juga tenaga dalam. 

Kemudian sepeninggalan Syekh Subakir pemagaran gaib terhadap pengaruh negatif dilanjutkan oleh para Wali Songo. Para wali ini mengajarkan ajaran Islam. Salah satu diantaranya yang terkenal yaitu Sunan Kalijaga. Wallahu alam bishawab

Sejarah Terbentuknya Pulau Jawa

Sebuah teori geologi kuno menyebutkan, proses terbentuknya daratan yang terjadi di Asia belahan selatan adalah akibat proses pergerakan anak benua India ke utara, yang bertabrakan dengan lempengan sebelah utara. Pergerakan lempeng bumi inilah yang kemudian melahirkan Gunung Himalaya.

Konon, proses tersebut terjadi pada 20-36 juta tahun yang silam. Anak benua yang di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan adalah gugusan-gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau-pulau di Asia Tenggara, yang sebagian adalah Nuswantoro (Nusantara), yang pada zaman dahulu disebut Sweta Dwipa. Dari bagian daratan ini salah satunya adalah gugusan anak benua yang disebut Jawata, yang satu potongan bagiannya adalah pulau Jawa.Jawata artinya gurunya orang Jawa. Wong dari kata Wahong, dan Tiyang dari kata Ti Hyang, yang berarti keturunan atau berasal dari Dewata. Konon karena itulah pulau Bali sampai kini masih dikenal sebagai pulau Dewata, karena juga merupakan potongan dari benua Sweta Dwipa atau Jawata.

Mengingat kalau dulunya anak benua India dan Sweta Dwipa atau Jawata itu satu daerah, maka tidak heran kalau ada budayanya yang hampir sama, atau mudah saling menerima pengaruh. Juga perkembagan agama di wilayah ini, khususnya Hindu dan Budha yang nyaris sama.

Versi mistis :
Pulau terbesar dengan penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia ini, tidak menyangka, kalau dahulunya adalah pulau terkecil dan terpecah-belah oleh persilangan laut antara utara dan selatan.

Kisah dipersatukannya seluruh pulau yang terdapat di berbagai pulau Jawa, akibat dari kesaktian yang dimiliki oleh Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa. Konon dengan kesaktian beliau, pulau itu ditarik satu persatu menjadi pulau terbesar dan dinamakan Bumi Ing Jowo Dwipo.

Semasa pulau ini belum terjamaah oleh manusia, para siluman dari bangsa seleman dan togog telah lebih dulu menduduki hingga ribuan tahun lamanya. Masa itu pulau Jawa disebut dengan nama Mokso Seleman (zaman para lelembut).Namun setelah keturunan dari Shang Hyang Nurasa menduduki bumi Jawa (Shang Hyang Dewa) pulau itu disebut dengan nama bumi pengurip (bumi yang dihidupkan). Shang Hyang Dewa akhirnya moksa di puncak Gunung Tidar, setelah beliau menyatukan berbagai bangsa lelembut untuk menuju jalan Adil (kebenaran), dan dari keturunannya.

Terlahir pula para Shanghyang Agung, seperti Shanghyang Citra Suma, Shanghyang Dinata Dewa, Shanghyang Panca Dria, yang akhirnya dari merekalah sebuah titisan atau wasilah turun-temurun menjadi kerajaan teragung yang absolut.

Baru diabad ke 12, pulau Jawa diperluas dengan tiga aliran yang berbeda, yaitu dengan adanya ajaran Hindu, mokso Jawi dan Islam. Akhir dari ketiga aliran tersebut nantinya menjadi suatu perlambang dari perwatakan penduduk pulau Jawa hingga sekarang ini.

Dalam perluasan arti ketiga diatas, mencerminkan sebuah kehidupan bermasyarakat gemah ripah loh jinawi. Konon ajaran ini hanya ada dipulau Jawa dan seterusnya menyebar ke seluruh pelosok yang ada di Indonesia, seperti ajaran Hindu misalnya, ilmu yang diajarkan oleh para Shanghyang Dewa, ilmu, sebagai aji rasa manunggaling agung.

Lewat bait sansekerta Yunani yang mengupas di dalamnya, kebenaran, keadilan, kejujuran dan memahami sifat alam. Ilmu ini akhirnya diturunkan oleh bapaknya para dewa. Raden Nurasa kepada Nabiyullah Khidir a.s. dan dizaman Wali Songo nanti, ilmu ini dipegang dan menjadi lambang dari sifat kependudukan masyarakat Jawa oleh tiga tokoh Waliyullah, yaitu Sunan Kalijaga, Mbah Cakra Buana dan Khanjeng Syekh Siti Jenar.

Moksa jawi sendiri, sebuah ilmu yang mengupas tentang kedigdayaan ilmu yang bersumber dari raja lelembut, bernama raja lautan. Ini sangat berperan dan menjadi salah satu perwatakan masyarakat Jawa. Konon ajaran yang tergabung di dalamnya mengajarkan arti tirakat, mencegah hawa nafsu dan memahami makna rohani, simbol dari ajaran ilmu ini digambarkan sebagai bentuk keris.

Keris menjadi suatu perlambang dari ajaran orang Jawa, bermula dari seorang Empu, bernama Ki Supo Mandragini. Beliau salah satu santri dari Khanjeng Sunan Ampel Denta yang diberi tugas untuk membuat sebilah keris. Namun rupanya, pemahaman dari sang guru dan murid ini saling berseberangan, disisi lain Sunan Ampel menginginkan sebuah pusaka berupa sebilah pedang sebagai perlambang dari makna Islam. Namun ketidaktahuan Ki Supo Mandragini sendiri, akhirnya beliau membuat sebilah keris berluk 9.

Keris tersebut menjadi penengah antara ajaran Islam dan Hindu bagi orang Jawa, dengan sebutan Islam Kejawen, dan keris pembuatan Ki Supo diberi nama Kyai Sengkelat. Dari kedua aliaran diatas, Islam telah ada di pulau Jawa sejak abad ke 9. Ajaran ini dibawa dari kota Misri oleh seorang Waliyullah Kamil Syekh Sanusi dan muridnya Muhammaad Al Bakhry, dan baru masyhur tentang ajaran Islam di pulau Jawa pada abad 13 dan 14 atau zamannya para Wali Songo.

Pembedaran lain dari keunikan yang terdapat di pulau Jawa pada masa itu, 300 tahun sebelum Wali Songo mendudukinya, para Shanghyang maupun bangsa lelembut seleman telah mengetahui lewat sasmita gaib yang mereka terima, bahwa sebentar lagi pulau Jawa akan dibanjiri para pemimpin makhluk dari berbagai negara.

Mereka dari seluruh alam berkumpul, berdiskusi di puncak Gunung Ciremai, pada masa itu mereka mufakat untuk mengabdi dan membantu, apabila para Waliyullah telah menduduki pulau Jawa. Namun tentunya tidak semua dari mereka setuju, sehingga perpecahan dari dua kubu yang berseberang jalan itu dinamakan Getas Kinatas (terpecahnya satu keluarga atau satu keturunan).

Nanti pada akhirnya tiba, dari Shanghyang Rowis Renggo Jenggala, akan menurunkan beberapa keturunan Saktineng Paku Jawa (orang-orang sakti yang menjdi penguasa pulau Jawa) diantaranya:

- "Arya Bengah" yang menurunkan para putera Majapahit dan keturunannya sampai putera Mataram.

- "Ciung Wanara" yang menurunkan Lutung Kasarung hingga sampai ke silsilah Prabu Agung Galuh atau yang dikenal dengan nama Prabu Munding Wangi atau Prabu Siliwangi.

- "Nyi Mas Ratu Ayu Maharaja Sakti" menurunkan beberapa keturunan berbagai alam diantaranya "Ratu Palaga Inggris, seorang puteri cantik dari bangsa manusia, yang akhirnya dikawin oleh Prabu Siliwangi.

- "Kerta Jasa" maharaja sakti.

- "Sang Kowelan" salah satu anak dari Ratu Palaga Inggris yang berjenis bangsa lelembut, dari beliau pula ucuk umun dan Ratu Kidul dihasilkan.

- Dari "Syekh Sanusi" melahirkan ratusan Waliyullah kondang, diantaranya para Wali Irak, Yaman, Mesir, Turky, dan para Wali Jawa.

Untuk yang berseberangan atau getas kinatas, sebagian dari mereka memilih ngahyang (raib) dan tak pernah muncul lagi dipermukaan bumi dan sebagian lagi mereka mengabdi dengan lewat menjaga semua alam di pulau Jawa.

Diantara yang mengabdi adalah :

- Sih Pohaci, beliau menjaga awan dan langit.
- Sih Parjampi, beliau selalu menjaga bumi dan bertempat pada lapisan bumi nomor dua.
- Sang Sontog, menjaga semua gunung pulau jawa.
- Sang Waluhun, menjaga pantai utara dan selatan.
- Sih Walakat, menjaga seluruh hutan dan pepohonan.
- Sangkala Brahma, menjaga bumi Cirebon.
- Sangkala Wisesa, menjaga bumi Mataram.
- Janggala Putih, menjaga bumi Bogor.
- Sang Lenggang Lumenggang Gajah, menjaga bumi Jakarta.
- Sang Seda Hening, menjaga bumi Banten.

Dan pengguron atau perguruan para purwa, Wali Jawa, diantaranya;

Perguruan, penatas angin Pekalongan.
Perguruan, Agung Waliyullah Ki Bagus Santo Pekalongan.
Perguruan, Pandarang Semarang.
Perguruan, Jambu Karang Purwokerto.
Perguruan, Daon Lumbung Cilacap, dan lain-lain.

Senin, 22 Februari 2016

Beriman Kepada Allah


Beriman Kepada Allah

A. Pengertian Iman Kepada Allah SWT

Iman menurut bahasa artinya percaya atau yakin terhadap sesuatu. Iman menurut istilah adalah pengakuan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan dengan anggota badan. Hal ini sesuai Hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

الايمان معرفة بالقلب و قول باللسا ن و عمل بالاركان (رواه الطبران)

Artinya : “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”(HR Thabrani)

Dari penjelasan Hadits di atas dapat disimpulkan bahwa iman kepada Allah SWT membutuhkan tiga unsur anggota badan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, yaitu hati, lisan dan anggota badan. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT hanya dalam hati, lisan, hati dan lisan atau anggota badan saja, maka orang tersebut belum bisa dikatakan orang yang beriman.
Iman kepada Allah merupakan suatu keyakinan yang sangat mendasar. Tanpa adanya iman kepada Allah SWT, seorang tidak akan beriman kepada yang lain, seperti beriman kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul Allah dan hari kiamat.

Firman Allah SWT :

يَا اَيُّهَا الذِيْنَ امَنُوا امِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالكِتَابِ الذِى نَزَّلَ عَلى رَسُولِهِ وَالكِتَابِ الذِى اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكفُرْ بَاللهِ وَمَلئِكَتِهِ وَكتبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الاخِرِِ فقد ضَلَّ ضَلالا بَعِيْدًا ١٣٦
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya, Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS.An Nisa : 136).

B. Sifat-Sifat Allah SWT

Allah SWT adalah zat Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas seluruh alam beserta isinya. Allah SWT memiliki sifat wajib, mustahil dan jaiz sebagai sifat kesempurnaan bagi-Nya. Sebagai muslim yang beriman, wajib mengetahui sifat-sifat tersebut.
Sifat wajib, artinya sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah SWT . sifat wajib Allah berjumlah 13.
Sifat mustahil, artinya sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada pada Allah SWT. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib. Jumlahnyapun sama dengan jumlah sifat wajib bagi Allah SWT.
Sifat jaiz, artinya sifat yang mungkin bagi Allah SWT untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Artinya Allah berbuat sesuatu tidak ada yang menyuruh dan tidak ada yang melarang. Sifat jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu.”

C. Hikmah Beriman Kepada Allah SWT Meyakini kepada Allah SWT dengan sifat-sifat-Nya akan memberikan banyak hikmah diantaranya :

Meyakini kebesaran Allah SWT
Meningkatkan rasa syukur
Selalu menjalankan perinyah-Nya.
Selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan larangan-Nya.
Tidak takut menghadapi kematian

WASILAH, Cara Berjumpa Dengan Allah


WASILAH, Cara Berjumpa Dengan Allah

Semua manusia di dunia ini meyakini bahwa Tuhan adalah sosok yang Agung, Mulia, Sempurna dan segala gelar hebat di sandang oleh-Nya. Kalau di dunia ada Raja maka Tuhan adalah Maha Raja Diraja. Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia tersebut, sebegitu tingginya sehingga hampir semua manusia merasa mustahil untuk berjumpa denga-Nya. Hanya golongan tertentu saja seperti Nabi yang diizinkan untuk menjumpai-Nya. Bahkan dalam pandangan kelompok tertentu dalam Islam, bahkan Nabi sendiri tidak pernah berjumpa dengan Allah di dunia, dalil tentang pengalaman Musa ingin melihat Tuhan dijadikan dalil untuk membenarkan pendapat mereka. Kelompok Mu’tazilah bahkan lebih ekstrim lagi, mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak bisa dilihat atau dijumpai baik di dunia maupun di akhirat.

Kelompok yang paling banyak adalah yang berpendapat bahwa Allah tidak bisa dilihat atau dijumpai didunia namun Dia bisa dijumpai di akhirat setelah manusia meninggal dunia. Karena banyak bahkan sangat banyak, pada umumnya kita juga meyakini atau dipaksa meyakini bahwa Tuhan tidak mungkin dilihat di dunia dengan alasan Dia Maha Tinggi dan Maha Segalanya.

Disisi lain, kaum Sufi meyakini dan memang mengalami hal yang mustahil bagi kaum awam, yaitu berjumpa, melihat dan berdialog dengan Allah sebagaimana yang diceritakan para Tokoh Sufi dalam berbagai karyanya, salah satu Imam al-Ghazali yang melihat dan berdialog dengan Tuhan di dalam mimpi Beliau.

Pertanyaan yang paling menggoda kita adalah, kenapa ketiga kelompok ini yang sama-sama mengambil sumber ilmu dari Al-Qur’an dan Hadist bisa begitu jauh berselisih paham dan ini telah terjadi dari zaman dulu sampai sekarang. Jawaban normative karena pikiran manusia berbeda-beda dan kemampuan untuk menyerap ilmu dari sumber yang Agung (Al-Qur’an juga berbeda.

Bagi kelompok yang tidak meyakini bahwa Allah bisa di lihat di akhirat, dengan segala dalil menyerang kelompok yang meyakini bahwa Allah bisa dilihat di akhirat. Kaum Mu’tazilah menganggap keliru pemahaman Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang meyakini Allah bisa dilihat di akhirat. Kemudian, orang yang meyakini bahwa Allah hanya bisa dilihat di akhirat menganggap keliru atau aneh bagi orang yang meyakini bahwa Allah bisa dilihat di dunia dan akhirat. Kalau kita terus menerus terjebak kepaa perdebatan tentang Tuhan, maka secara tidak sadar kita tidak pernah mau berusaha untuk menemukan kebenaran lain selain yang kita yakini.

Tuhan Maha Tinggi dan tidak seorangpun yang bisa menjangkat Zat Allah yang Maha tinggi tersebut, dan dalam hal ini kaum sufi yang meyakini bahwa Tuhan bisa dilihat juga berpendapat seperti ini. Tidak berarti bahwa ketika kaum sufi berkesempatan memandang Allah, lalu kedudukan Allah menjadi rendah. Semua manusia memposisikan Tuhan sesuai kadarnya masing-masing makanya dengan segala keyakinannya menampatkan TUhan ditempat yang tdak terjangkau agar kedudukan Tuhan tetap tinggi. Lalu, kalau Tuhan sudah sangat tinggi tidak dapat dijangkau, untuk apa adanya Tuhan?

Tuhan tidak sekedar sesuatu yang disembah, tapi Dia adalah sosok yang akrab dengan kita, tempat kita berkeluh kesah dan sahabat yang paling setia. Nabi Ibrahim menjadi “Khalilullah” Sabahat Allah karena kedekatan Beliau dengan Allah, lalu apakah hanya Ibrahim satu-satunya manusia yang layak menjadi Sahabat Allah? Nabi Muhammad terkenal sebagai “Habibullah” lalu apakah hanya Muhammad satu-satunya manusia yang layak menjadi kekasih Allah? Nabi Musa dikenal dengan “Kalamullah” orang yang diajak berbicara oleh Allah, apakah hanya Nabi Musa yang mengalami seperti itu. Bagaimana dengan kita yang awam, orang-orang yang bukan Nabi, apakah tidak boleh berhubungan dengan Allah dengan akrab?

Kaum sufi yang akrab dengan Tuhan juga tidak merasa dirinya hebat, tidak merasa dirinya suci dan mulia bahkan disetiap saat dengan kesadaran penuh dia merasa sebagai hamba yang hina, dhoif, papa tidak bisa apa, hanya karena kemuarahan hati TUhan saja yang membuat mereka bisa melakukan banyak hal di dunia ini. Kaum Sufi tidak pernah meyakini bahwa TUhan bisa menjadi manusi dan manusia karena kesuciannya bisa menjadi Tuhan, bahwa manusia itu bisa mencapai kedudukan mulia TUhan adalah pendapat diluarorang lain terhadap pemahaman Sufi. Kesalahan dalam memahami Wahdatul Wujud inilah kemudian yang membuat kaum sufi mendapat tuduhdan sebagai kelompok sesat dari orang-orang yang tidak memahaminya.

Kaum Sufi, dari manapun dia berasal dalam berhubungan dengan Allah tetap memakai meode yang diajarkan oleh Rassulullah yaitu lewat Wasilah. Karena tidak mungkin manusia bisa berhubungan dengan Allah tanpa ada unsur atau alat yang diberikan Allah. Dia yang Maha tinggi tidak mungkin dijangkau oleh manusia yang penuh dengan dosa dan kekurangan. Dalam hal ini seluruh manusia mempunyai kayakinan yang sama, termasuk Sufi. Allah yang Maha Pemurah memberikan “Alat Komunikasi” antara manusia dengan Dia yaitu berupa Nur Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Nur tersebut setelah Nabi Muhammad wafat diberikan kepada para ulama pewaris Nabi, dengan itulah manusia bisa berhubungan dengan TUhan. Sebagai alat komunikasi, Wasilah bukanlah ciptaan manusia, bukan pula manusia, tapi dia adalah sesuatu yang berasal dari sisi Allah. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Tali Allah, yang pangkalnya ada pada Allah dan ujungnya ada pada kekasih-Nya. Jangankan Allah yang merupakan Cahaya Maha Tinggi, berhubungan dengan cahaya yang nampak saja harus ada alatnya. Gelombang radio atau televisi ciptaan manusia tidak bisa diterima tanpa adanya alat penerimanya apalagi Cahaya Allah yang begitu Tinggi.

Nabi bukanlah sekedar penyampai wahyu, tapi Beliau adalah pembawa Wasilah yang berasal dari sisi Allah sebagai media penyambug manusia dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan langsung, tanpa perantara. Hubungan langsung yang dimaksud tentu saja hubungan dengan menggunakan metode yag tepat, metode yang telah disampaikan dan digunakan oleh Rasulullah SAW. Umumnya hubungan langsung yang diyakini oleh manusia secara umum, dia merasa yakin aja bahwa Tuhan yang disembah itu benar. Mulai dari dia bisa beribadah, dia meyakini yang disembah dalah Allah. Apkah memang demikian? Dari mana dia bisa tahu kalau yang berdiri didepannya itu sosok Iblis yang juga terdiri dari cahaya. Berpuluh-puluh tahun dia meyakini telah menyembah Allah lewat Shalat dan ibadah lainnya, ternyata yang disembah Iblis karena dia tidak bisa membedakan antara Allah dan Iblis. Ibadahnya berupa shalat itu diberi ganjaran Neraka oleh Allah karena yang disembah bukan Allah.

Apakah Iblis tidak bisa masuk kedalam Mesjid? Jangankan dalam mesjid atau rumah kita, kedalam surga pun dia bisa bolak balik, bebas keluar masuk. Jadi, kesmbongan kita menolak wasilah, menyembah Allah dengan metode Rasulullah ini yang menyembabkan kita mudah disusupi setan yang sangat Halus. Ingat, Nabi Adam digoda oleh Iblis bukan di Pasar Malam atau di Mall, tapi di dalam Surga yang dipagari oleh para Malaikat.

Kaum Sufi tidak ragu sedikitpun dia dalam beribadah karena dia sudah bisa membedakan antara Allah dan yang bukan Allah karena dia telah berjumpa dengan Allah. Bagi mereka Allah bukan hanya Maha Gaib (Al-Ghaibi) namun juga Maha Nyata (AD-Dzahir) seperti yang tertulis dalam Asmaul Husna. Bagi orang yang baru menempuh jalan kepada Allah (Thariqatullah), paling tidak dia telah mempunyai pembimbing (Mursyid) yang setiap saat akan menuntun dan membimbing dia kepada Allah secara zahir dan bathin. Godaan dan gangguan secara bathin dengan izin Allah akan mendapat Syafaat ( Bantuan) dari Guru Mursyid yang rohaninya selalu bersama rohani Rasulullah dan otomatis selalu bersama Allah.

Jadi, belum terlambat bagi siapapun kita yang belum menggunakan metode berhubungan dengan Allah berupa Wasilah untuk segera mencari Guru Pembimbing agar ibadahnya menjadi sempurna dan diterima oleh Allah SWT.

Zuhud (Dunia ada di tangan tapi tidak dihati)


ZUHUD

Sebagian orang salah paham dengan istilah zuhud. Dikira zuhud penyebab hidup tanpa harta. Dikira zuhud adalah harus hidup miskin. Lalu apa yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya?

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.
(HR. Ibnu Majah )

Zuhud dari segi bahasa artinya meninggalkan, tidak menyukai, atau menjauhkan diri. Zuhud dalam pengertian istilah adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Orang yang zuhud bukan berarti menjauhkan diri dalam artian tidak mau harta, materi duniawi dan sebagainya, dan bukan berarti juga orang yang zuhud harus miskin. Namun pengertiannya lebih kepada aspek mental, rohani, stabilitas emosi dalam menyikapi kesenangan duniawi. Tidak mau berlebihan, dan terlalu larut dalam kesenangan dunia sehingga membuat lupa terhadap kewajiban transendental (beribadah kepada Allah SWT).
Orang yang kaya pun bisa menjadi zuhud jika bisa menggunakan harta atau materi yang dimilikinya di jalan yang benar yang diridhoi Allah. Tidak mempengaruhi pegabdiannya kepada Allah SWT. Lawan dari sifat zuhud adalah hubbud dunya (cinta dunia) secara berlebihan. Orang yang hubbud dunya digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an di dalam surah Al-Humazah sebagai kategori orang yang senang mencela dan mengumpulkan harta. Konsekuensinya jika berlomba-loma mengumpulkan harta hanya untuk kesenangan semata maka akan dibinasakan sendiri oleh hartanya, sebagaimana dalam surat At-Takasur ayat pertama “alhaakumut takaatsur”.

Cara Mencapai Zuhud
Beberapa langkah langkah yang memungkinkan oleh pribadi pribadi muslim dalam rangka upaya mencapai sifat zuhud adalah :
Perbanyak memikirkan bahwa ada kehidupan setelah kehidupan dunia, yaitu kehidupan akhirat dan hari segala amal kita dihisab.
Senantiasa menumbuhkan rasa kenikmatan dunia niscaya akan dapat memalingkan hati untuk berdzikir kepada Allah SWT.
Memahami bahwa apa yang ada didunia tidak kekal dan akan sirna jika dibandingkan dengan apa yang ada di sisi Allah SWT.

Kesimpulan
Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan janji dan jaminan Allah.

Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.

Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri.

Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara. Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.

Aku dan Wahdatul Wujud


Aku dan Wahdatul Wujud

Wihdatul wujud merupakan sebuah konsep spiritual yang paling menggegarkan dunia Islam semenjak itu pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi Persia (Iraq), al-Hallaj. Dari istilahnya, Wihdatul Wujud dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang meniscayakan penyatuan antara hamba dengan Tuhan. Hal ini merupakan gagasan yang sangat "berbahaya", konon merupakan kesesatan paling besar yang pernah dihadapi oleh para ahli fiqh. Akan tetapi, hingga saat ini, belum ada yang mengerti apa sebenarnya Wihdatul Wujud itu sendiri. Para sarjana Islam dan barat sudah mengemukakan berbagai hasil penelitian mengenai hal tersebut, akan tetapi apakah Wihdatul Wujud itu bisa dijustifikasi dengan logika? Sementara penemunya sendiri menemukannya sebagai sebuah pengalaman spiritual? Ini merupakan sebuah kenyataan yang aneh. Buku yang sedang anda baca ini akan mengungkap hakikat Wihdatul Wujud yang sebenarnya. Anda jangan mengira anda sudah cukup memahami Wihdatul Wujud sehingga anda menolaknya; saya akan dengan segera menggengam pikiran anda dan mengajaknya jalan-jalan di sepanjang jalan spiritual untuk menemukan kebenaran sejati. Ini bukan sekedar bacaan saja, anda akan saya ajak mengembara ke alam kesadaran spiritual, untuk menemukan sebuah alasan bagi anda untuk mengakui bahwa Wihdatul Wujud merupakan tujuan anda diciptakan dimuka bumi ini. 

Jejak Wihdatul Wujud: Dari al-Hallaj hingga Syekh Siti Jenar Al-Hallaj 
Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughits al-Husain ibn Manshur ibn Muhammad al-Badawi. Beliau lahir di kota Thur, sebelah timur laut Baida, Persia atau sekarang dikenal dengan Iraq. Terlahir pada sekitar tahun 244 H (857 M) dan meninggal pada tahun 309 H (922 M). Seorang guru, sufi, yang sangat mashyur di zamannya, yaitu saat al-Hallaj berumur kurang lebih 20 tahun, adalah syeikh Amral al-Maliki. Dari Syekh ini al-Hallaj mulai mempelajari tasawuf. Beberapa tahun berguru pada syekh al-Maliki, al-Hallaj memilih untuk melanjutkan penuntutannya kepada syekh selanjutnya, yaitu syekh al-Junaid al-Baghdadi. Dari syekh al-Maliki, al-Hallaj mengenal tasawuf dan zuhud dan kemudian melaksanakan kehidupan zuhud yang sesungguhnya, namun pemikiran politik yang berbeda antara al- Hallaj dan syekh al-Maliki membuat mereka harus berpisah. Yang memotivasi al-Hallaj hingga menemui syekh al-Baghdadi di Baghdad adalah rasa kehampaan selama melaksanakan zuhud, al-Hallaj merasakan bahwa ada sesuatu yang belum dia temukan dan wajib untuk dicari. Melalu syekh al-Baghdadi, al-Hallaj menemukan jalan untuk melepaskan dahaga rohaninya, al-Baghdadi menyuruhnya untuk menunaikan ibadah haji. Disaat melaksanakan ibadah haji, al-Hallaj menemukan sebuah ilham, bukan inspirasi, yang membawanya pada kesadaran "penyatuan" antara dia dan Allah. Ilham itu sudah tentunya merupakan privasi yang tak tersentuh oleh orang yang tidak mengalaminya. Intisari dari ilham yang dia temukan itulah yang disebut Wihdatul Wujud, untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, Wihdatul Wujud lahir pertama kali di Tanah Suci, di saat al-Hallaj menunaikan ibadah haji. Sepulang dari ibadah haji, al-Hallaj mengemukakan pengalaman spiritualnya, dalam sebuah konsep yang disebut dengan Hulul. Hulul artinya bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia ketika manusia itu mengalami Fana', sebuah proses peleburan indrawi basyariyah. Tanpa pemahaman apa-apa tentang hal ini, tanpa diskusi, golongan Mu'tazilah dan Syi'ah kemudian menggelar klaim akbar bahwa al-Hallaj telah menyebarkan kesesatan terhadap umat Islam, khususnya tentang ketauhidan. Apa yang disampaikan oleh al-Hallaj merupakan apa yang dia ilhami dari proses tafakkurnya. Dan apa yang ditentang oleh kaum Mu'tazilah dan Syi'ah adalah bahwa tidak benar Tuhan menempati diri manusia; tentu saja, jika manusia masih dengan kesadarannya sebagai manusia, dan terutama karena mereka belum paham apa yang dimaksud oleh al-Hallaj. Lagipula, menurut beberapa literatur, semua ini hanyalah sebuah alasan untuk mengeliminasi al-Hallaj dari konstelasi politik saat itu. Al-Hallaj dicurigai dan dituduh bersekongkol dengan sekelompok orang dalam upaya mengkudeta pemerintah. 
Al-Hallaj merupakan pemerhati moral politik, suatu saat ada sekelompok besar masa yang melakukan demonstrasi menuntut adanya reformasi moral politik, dan masa ini mengaku mendapatkan dukungan dari al-Hallaj, dan hal ini menyebabkan al-Hallaj dipenjara selama kurang lebih sembilan tahun. Al-Hallaj, singkat kata, dipenjara karena alasan politik, merongrong tatanan pemerintah yang memang sudah harus ditata ulang, al-Hallaj dianggap narapidana yang paling berbahaya karena berupaya menggulingkan pemerintahan; anehnya, al-Hallaj sebenarnya menghabiskan waktunya untuk zuhud dan berdakwah, dan tidak ada keuntungan baginya untuk menggulingkan kekuasaan siapapun karena dia tidak tergolong orang yang cinta dunia. Al-Hallaj kemudian dijatuhi hukuman mati, walaupun dari pihak kerajaan sudah meminta ampunan untuk beliau, mengingat jasanya saat mengobati putra mahkota kerajaan. Pada tahun 922 M, al-Hallaj disalib dan dipukuli dengan balok hingga darahnya bercucuran dari kepala. Al-Hallaj dibiarkan separuh mati selama sehari, dan akhirnya al-Hallaj dipenggal. 
Ajaran al-Hallaj dikenal dengan kata al-Hulul. Menurut al-Hallaj, diantara hamba dan Tuhan terdapat garis pemisah yang menegaskan hakikat masing-masing. Garis pemisah itu sangat dekat, yaitu yang menyembah dan yang disembah (al-Abid wal Ma'bud). Pada kondisi dimana ingatan hanya tertuju kepada Allah semata, dan menolak selain Allah, termasuk diri sendiri, maka al-Abid pun lenyap, dan tinggallah al-Ma'bud. Kebaqaan al-Ma'bud merupakan konsekuensi dari fana'nya al-Abid. 
Pada titik inilah garis pemisah dan pembeda hakikat pun hilang, sehingga pada hakikatnya yang menyembah dan yang disembah adalah satu. Hanya saja, orang tidak memahami bahwa yang dimaksud oleh al-Hallaj adalah bahwa al-Abid melebur masuk kedalam al-Ma'bud, dan bukan al-Ma'bud merasuki tubuh al-Abid. Jika kesadaran al-Abid masih dhahir, maka tidak fana'lah dia, dan jika fana' maka al-Ma'bud lah yang dhahir dan al-Abid menjadi batin atau rahasia yang tersembunyi dibalik kebesaran Allah Swt. 

Ibnu Arabi 
Ibnu Arabi merupakan salah seorang sufi termasyhur dizamannya, di Andalusia (Spanyol). Beliau lahir di kota Mursiyah pada tahun 560 H (1165 M) dan meninggal pada tahun 1240 M. Nama aslinya adalah Abu Bakr Muhammad bin Ali, dan panggilan akrabnya adalah Ibnu Arabi. 
Hasil pencarian jati diri dan pengalaman mistiknya menyimpulkan sebuah kesadaran spiritual, yang kelak mendapatkan tantangan keras sebagaimana yang dialami oleh al-Hallaj, yakni tidak ada yang maujud selain Allah. Ibnu Arabi menegaskan bahwa Allah adalah kenyataan dari segala sesuatu. Hal ini kemudian ditafsirkan sebagai kekeliruan mistik, padahal yang dimaksud dengan "Allah adalah kenyataan dari segala sesuatu" adalah bahwa Allah yang menjadikan segala sesuatu itu nyata, sehingga Allah-lah kenyataan mutlak yang harus dipahami. Perumpamaan yang bisa diambil dari Wihdatul Wujud Ibnu Arabi adalah bahwa segala sesuatu ini dapat terindrai karena cahaya dan udara, cahaya membuat segala sesuatu terlihat dan udara membuat segala sesuatu terdengar. Kita akan menolak bahwa cahaya dan udara merupakan kenyataan mutlak, namun kita tidak menolak bahwa keberadaan cahaya dan suara untuk "menyatakan" segala sesuatu adalah mutlak sifatnya. Begitu juga dengan Allah Swt, sudah barang tentu Allah Maha Nyata (Ad-Dhahir), mana kala keberadaanNya membuat nyata segala sesuatu (termasuk diri anda) maka apakah anda keberatan untuk menerima pandangan Ibnu Arabi di atas? 
Titik Wihdatul Wujud Ibnu Arabi terletak pada kemesraan Allah dan segala eksistensi yang ada di dunia ini. Hanya saja saya perlu meluruskan pandangan anda tentang hal ini, bahwa yang dimaksud dengan "tidak ada yang maujud kecuali ujud Allah" adalah bahwa Ujud Allah merupakan kemutlakan yang wajib untuk menyatakan segala yang maujud. Jika Allah tidak ada, maka kita tidak ada. Untuk mengatakan bahwa pepohonan merupakan Ujud Allah itu sangat naif, kesadaran spiritual tidak demikian, tetapi sesungguhnya yang membuat pepohonan itu berwujud adalah adanya eksistensi Allah, sekaligus eksistensi kita yang mengamati dan menyaksikan kenyataan pepohonan tersebut. Ini bukanlah spekulasi filsafati, ini merupakan misal-misal bagi anda yang suka salah paham dan salah tuduh. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini merupakan misal tentang kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang berpikir. Tidak benar bahwa Ibnu Arabi menemukan bahwa "wujud selain Allah adalah wujud bayangan", karena sesungguhnya dengan Ujud Allah maka wujud selainnya menjadi berwujud, berkesistensi. Bukankah segala sesuatu berasal dari kehendakNya? Sehingga yang ada itu hanya berasal dari kehendak dan kehendak berasal dari yang Berkehendak. Jika kita hanya wujud bayangan, maka tidak dikenakan hukum apapun, karena bayangan hanya mengikuti gerak Ujud Allah. Tetapi Wujud merupakan kenyataan Ujud. Alam semesta, termasuk manusia, merupakan kenyataan Ujud Allah; dengan kata lain, Wujud selain Allah merupakan bukti nyata Ujud Allah. Ada pergerakan pemahaman Wihdatul Wujud antara al-Hallaj dan Ibnu Arabi, jika al-Hallaj menemukan bahwa Allah mengambil tempat pada diri manusia ketika manusia tersebut fana', maka Ibnu Arabi menemukan bahwa bukan hanya manusia, tetapi alam semesta. Namun Ibnu Arabi menegaskan pada aspek "kenyataan" dan bukan aspek "penempatan" sebagaimana Hululnya al-Hallaj. Al-Hallaj menegaskan kesadaran spiritual internal,yaitu kesadaran seorang hamba dalam keadaan fana bahwa Allah adalah satu-satunya Ujud; sedangkan Ibnu Arabi menegaskan bahwa Ujud Allah merupakan kenyataan mutlak bagi Wujud selain Allah. 

Abu Yazid al-Busthami 
Nama beliau adalah Abu Yazid Taifur ibn Isa al-Bustami. Beliau dilahirkan di Bistam, Persia (Iraq) pada tahun 804 M. Menurut beberapa literatur, Abu Yazid merupakan pencetus pertama konsep fana' dan baqa'. Salah satu teorinya adalah al-Ittihad. Abu Yazid berguru kepada salah seorang Syekh yang bernama Syekh Shaddiq yang mengajarkan beliau prinsip-prinsip dasar tasawuf. 
Dari Syekh Shaddiq, Abu Yazid mempelajari bahwa syariat dan hakikat merupakan pasangan yang tak terpisah antara satu dan yang lain; begitupula sebaliknya, syariat dan hakikat. 
Persoalan fana dan baqa akan saya paparkan pada bagian kemudian secara gamblang. Ittihad, sebagaimana Hulul-nya al-Hallaj, merupakan kesadaran spiritual "bersatunya" hakikat Allah dan hakikat hamba dalam proses fana. Bahkan, penyatuan yang dimaksud bukanlah pernyatuan rohani, apalagi jasmani. Penyatuan yang dimaksud adalah peleburan hakikat hamba kepada hakikat Allah, laksana setetes air laut terjatuh ke dalam samudra; atau dengan kacamata Ibnu Arabi kenyataan hamba yang hanya merupakan titik melebur pada kenyataan Allah yang "menyamudra." Pandangan Abu Yazid ini dianggap menyesatkan, karena meniscayakan adanya penyatuan Allah dan hamba. Ini dianggap sebagai degradasi derajat Allah yang maha Mulia; menganggap Allah sederajat dengan hamba merupakan pelecehan terhadap Allah. Disinilah kesalah tafsiran para ulama pada saat itu (hingga saat ini). Yang dimaksud dengan Hulul dan Ittihad bukanlah menyamakan derajat Allah dan hamba, melainkan justru meniadakan hamba sehingga yang ada hanyalah Allah semata. Diri sendiri merupakan sesuatu yang bisa menghalangi kita sampai kepada Allah, sehingga untuk menyatakan Ujud Allah, maka Wujud diri harus melebur, atau disebut dengan fana. 

Syekh Siti Jenar 
Biografi Syekh Siti Jenar masih merupakan kontroversi hingga saat ini, bahkan ada atau tidaknya beliau masih merupakan misteri. Sebuah literatur menyebutkan bahwa beliau terlahir pada tahun 1426 M di Cirebon dan meninggal pada tahun 1517 M. Bapak beliau bernama Syekh Datuk Shaleh dan beliau masih tergolong keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib KW. 
Syekh Siti Jenar memiliki sejumlah nama (sebutan), beliau hampir memiliki satu nama di setiap tempat di mana beliau menjalankan dakwahnya. Nama yang sangat jelas, selain Siti Jenar, adalah Syekh Abdul Jalil dan Syekh Lemah Abang. 
Syekh Siti Jenar tumbuh remaja di sebuah Padepokan Giri Amparan Jati, milik paman beliau. Padepokan ini berada di atas Gunung Jati. Dapa usia 15 tahun, Syekh Siti Jenar berhasrat untuk "turun gunung" untuk melihat keadaan luar. Disinilah perjalanan spiritual Syekh Siti Jenar dimulai. 
Syekh Siti Jenar berangkat ke Baghdad (Iraq) untuk memperdalam wawasan agama Islamnya. Dia berkenalan dengan seorang sufi masyhur, yang kemudian menjadi gurunya mengenai tasawuf, yakni Syekh Ahmad Tawalud. Syekh Ahmad memiliki puluhan kitab ma'rifat yang merupakan peninggalan Syekh Abdul Mubdi al-Baghdadi. Syekh Siti Jenar diperbolehkan untuk tinggal di rumah Syekh Ahmad, dan dari sekian banyak kitab ma'rifat yang ada di rumah itu, beberapa diantaranya adalah kitab milik al-Hallaj, yang dipelajari secara sangat hati-hati oleh Syekh Siti Jenar. Bukan hanya itu, kitab-kitab Ibnu Arabi dan al-Ghazali juga dipelajari sama hati-hatinya. Syekh Siti Jenar juga melaksanakan perjalanan penuntutan di India, dan kembali ke Cerebon pada tahun 1463 M. Syekh Siti Jenar menjadikan Wihdatul Wujud sebagai pedomannya, namun sama sekali bukan sebuah keputusan yang benar bahwa beliau menistakan syariat. Kembalinya dia ke Cirebon membawa dia kepada suatu posisi dalam konstelasi Wali Songo, beliau menjadi salah satu penyebar agama Islam di Jawa, di Indonesia. 
Sebagai salah satu anggota penyebar Islam, Syekh Siti Jenar dipercayakan untuk mengajarkan Syahadat (Persaksian). Pemikiran Syekh Siti jenar yang didominasi oleh hakikat itu kemudian membawanya kepada sebuah kesadaran musyahadah tertinggi, yang dia sebut Manunggaling Kawula lan Gusti. Beliau kemudian mengajarkan Manunggaling Kawula lan Gusti kepada para santrinya yang menurut Sunan Kalijaga belum cukup pegetahuan Syariatnya. Syekh Siti Jenar juga pernah mempelajari hakikat dari Sunan Giri dan Sunan Bonang, tetapi ini masih misteri. Ada sebuah mitos menarik, yakni Syekh Siti Jenar "mencuri" ilmu Sunan Giri dengan berubah wujud menjadi cacing tanah. Para pencerita mitos ini mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar menguasai ilmu kanuragan, termasuk ilmu merubah wujud. Tetapi bagi saya tidak demikian, Syekh Siti Jenar tidak mempelajari kanuragan, karena kanuragan itu hanya dipelajari oleh orang Buddha pada saat itu, sedangkan Syekh Siti Jenar lahir dalam keluarga Islam yang fanatik. Lagi pula, Syekh Siti Jenar memiliki guru para sufi tersohor di Iraq dan India, dan mempelajari kitab langsung dari para sufi-sufi salafusshalih. Manunggaling kawula lan gusti merupakan "penjawaan" Hulul dan Ittihad. Istilahnya diubah ke dalam bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat. Bisa dikatakan bahwa Wihdatul Wujud telah mendarah daging pada Syekh Siti Jenar, dan itulah kebenaran yang beliau temukan. 
Syekh Siti Jenar mengajarkan kepada para santrinya bagaimana cara untuk bersaksi, yaitu harus menyaksikan agar tidak terjadi persaksian palsu. Ini yang tidak diajarkan oleh para wali yang lain paa saat itu; dan tugas ini bukanlah tugas yang mudah. Syekh Siti Jenar menjelaskan bahwa kenyataan manusia itu mesra dengan kenyataan Allah, sehingga Allah senantiasa mengawasi dan senantiasa dekat, bahkan lebih dekat dengan urat nadi; demikian Syekh Siti Jenar mengutip ayat al-Qur'an. Akan tetapi Syekh Siti Jenar tidak serta merta memberikan penjelasan bagaimana mengalami hal tersebut, karena Syekh Siti Jenar tahu betul bahwa santrinya masih pemula. Ajaran Syekh Siti Jenar memang sangat kental dengan hakikat dan tasawuf yang pada saat itu bisa dibilang baru, karena para wali, meskipun menguasai hal yang sama, tetapi sama sekali tidak mengajarkan hal tersebut. Ini bisa dimaklumi, karena tugas yang diemban berbeda-beda. Apa yang harus diajarkan lagi jika tugas yang diemban adalah mengajarkan Syahadat? Sebuah Hadits menyebutkan bahwa "Awal dari Agama adalah mengenal Allah." Dan ini merupakan titik tolak Syekh Siti Jenar, bahwa jika mereka tidak ma'rifat maka mereka sebenarnya tidak menyembah Allah, melainkan menyembah budi semata. Menyadari hal ini, Syekh Siti Jenar kemudian mengajarkan kepada para santrinya tentang hakikat ketuhanan, baik dari sumber-sumber yang dipelajarinya, maupun dari hasil perjalanan spiritualnya. Ini diklaim oleh para wali dan pemerintah setempat sebagai upaya penyesatan, namun sekali lagi, ini tidak benar. Sunan Kalijaga sendiri memahami apa yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar, hanya saja Sunan Kalijaga keberatan jika manunggaling Kawula lan Gusti diwejang kepada para santri yang masuh "bodoh" itu. Syekh Siti Jenar menolak apa yang disebut-sebut oleh para wali sebagai "sesat" itu. Karena dia tahu benar bahwa apa yang dia ajarkan itu penting, demi benarnya arah peribadatan para santri. Lucunya, apa yang dialami oleh al-Hallaj kembali terulang, dengan alasan politik, Syekh Siti Jenar akhirnya dihukum penggal. Misteri kematiannya juga sampai saat ini belum terungkap dengan jelas. 
Para pejabat kerajaan Demak Bintoro menjadi gelisah, mereka khawatir jika ajaran Syekh Siti Jenar ini menimbulkan pemberontakan terhadap pemerintah. Salah satu murid Syekh Siti jenar adalah Ki Ageng Pengging yang merupakan anak istana Majapahit yang pada saat itu berstatus sederajat dengan Raden Patah. Pemerintah khawatir jika terjadi bentrokan antara aden Patah dan Ki Ageng Pengging. Raden Patah pernah memanggil Ki Ageng Pengging untuk menghadap demi klarifikasi ajaran Manunggaling Kawula lan Gusti, namun Ki Ageng Pengging menolaknya, karenanya raden Patah dan para Wali menyepakati untuk menyeret Syekh Siti Jenar di Sidang perwalian. Mereka mengutus Syekh Domba dan pangeran Bayat, tetapi setelah melewati debat yang ketat dengan Syekh Siti Jenar, Syekh Domba malah menjadi murid Syekh Siti Jenar. Akhirnya, para Wali sendiri datangi Syekh Siti Jenar dan menghukumi Syekh Siti Jenar, dengan alasan tidak mematuhi sultan demak pada saat itu. Belum lagi mereka mengeksekusi Syekh Siti Jenar, beliau telah melepas diri dengan "jalan kematian" beliau sendiri, dan kemudian diikuti oleh beberapa santri yang telah menguasai ilmu tersebut. 

Demikianlah perjalanan Wihdatul Wujud sejak al-Hallaj hingga Syekh Siti Jenar, yang sampai saat ini mendapatkan tudingan sesat, kafir, zindiq, murtad, dan sebagainya. Melalui risalah "Aku dan Wihdatul Wujud" ini, anda akan menemukan jalan yang telah ditemukan oleh al-Hallaj, Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Butshami, Syekh Siti Jenar, dan saya sendiri. 

Upaya yang saya lakukan ini bukan semata-mata untuk menantang balik tudingan-tudingan tesebut, tetapi juga untuk memurnikan Wihdatul Wujud, dan mengenang para Sufi termasyhur sepanjang sejarah, yang dituding-tuding seperti dan dilaknat seperti Fir'aun. Saya masih tidak mengerti, mengapa para ulama di dunia ini hampir tidak bisa membedakan Fir'aun dengan para Sufi.

Manusia Sebagai Tamu


Manusia Sebagai Tamu

Manusia hidup didunia ini hanyalah sebagai tamu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berarti; "Adalah kamu semuanya manusia dudunia ini hanyalah tamu" 
Jadi semua manusia didunia ini adalah sebagai tamu dan dunia ini hanyalah tempat pertamuan. Hakikat manusia asalnya bukan didunia, yang asli dari dunia hanyalah jasmani manusia, sedangkan rohani asalnya bukan dari dunia. Jadi yang dimaksud dengan "manusia sebagai tetanu" adalah ruhaninya bukan jasmaninya. 
Dan bila status manusia (ruhaninya) itu hanya sebagai tamu, maka tentunya waktu berada didunia tidaklah lama, harus segera kembali ketempat asalnya. Karenanya disetiap hari ada jutaan yang lahir kedunia (ada yang bertamu) dan ada yang mati (pulang keasal Nya) terus menerus tidak pernah putus. Oleh karena itu sebagai tamu didunia ini, maka Nabi Muhammad diserukan untuk "Mengambil masjid sebagai tempat tinggal" sebagaimana lanjutan dari hadits diatas yang berarti "Maka ambillah masjid-masjid sebagai tempat tinggal" Jika kita diperintahkan oleh nabi untuk menjadikan masjid sebagai tampat tinggal atau rumah. 
Apakah maksudnya hadits ini? 
Apakah kita harus menjadikan masjid sebagai tempat memasak dan sebagainya ?, Jika dipahami secara tekstual memang demikian dan perintah tersebut pasti membawa masalah, mengundang pertengkaran, oleh sebab itu untuk memahami hadits ini, tidaklah dapat secara lahiriah saja. Adapun maksud dari hadits tersebut adalah "Agar ruhani manusia itu membuat jasmaninya sebagai tempat tinggal, sebagai tempat mengabdikan kepada Allah (masjid)" 

Rasulullah bersabda yang artinya "Bumi itu semuanya adalah masjid (untuk umatku)" 
Jadi menurut rasulullah bumi ini semuanya adalah masjid (tempat menyatakan sujud, tempat mengabdi kepada Allah) Jasmani manusia adalah dari bumi, jika dikatakan bumi itu masjid, maka otomatis jasmani kita adalah masjid. Jadi masjid-masjid jasmani ini siapa yang menempatinya? Maka perintah "jadikan masjid sebagai rumah (tempat tinggal)" berarti yang dimaksudkan adalah membuat jasmani kita ini sebagai tempat tinggal, sebagai kandang, sebagai tempat untuk menyatakan sujud kepada Allah, tempat pengabdian roh atau tempat pengabdian tamu dari alam kesunyian.